Anak – Kumpulan Informasi Terlengkap Mengenai Anak

Anak – Kumpulan Informasi Terlengkap Mengenai Anak 4.67/5 (93.40%) 197 votes

Ketika telur ayam yang sudah dierami pecah, maka keluarlah anak ayam. Ia memang kelihatan masih lemah. Wajar saja, matanya baru saja terbuka melihat dunia. Lihatlah kemudian, dalam waktu yang tak lama ia akan bereaksi untuk berlindung di bawah tubuh ibunya. Hebatnya, ia bisa langsung berjalan. Ajaibnya pula, ia bisa makan sendiri walau masih dalam bimbingan induknya. Begitu mandirinya si anak ayam.

Tetapi itu adalah anak ayam. Tentu saja berbeda jauh dengan anak manusia. Seorang anak manusia terlahir dalam keadaan lemah, baik fisik maupun mentalnya. Ia belum dapat berbuat apa pun. Ia hanya diberi isyarat oleh Tuhan lewat menangis untuk mencari respon apa yang dibutuhkannya. Artinya, anak manusia yang baru lahir itu belum bisa mengandalkan kemampuan dirinya. Ia masih membutuhkan orang lain untuk  bisa mengurus dirinya sendiri. Orangtualah yang kemudian wajib melindungi dan membimbingnya.

a.  Peran orangtua dalam mendidik anaknya.

Anak yang baru lahir itu masih seperti selembar kertas, putih polos tanpa ternoda. Di tangan orangtuanyalah sang anak akan dibentuk menjadi seperti apa ia kelak. Makanya orangtua perlu  mengarahkan, membimbing, dan mendidik anak mereka dengan baik.

Namun sayang, banyak yang beranggapan bahwa peran orang tua hanya sampai pada perlindungan fisik semata. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Orangtua juga perlu melakukan pembimbingan mental. Makanya orang tua perlu membekali dirinya dengan pengetahuan bagaimana cara menyayangi, melindungi dan memberi perhatian pada anaknya.

b. Bagaimana kita memperlakukan anak.

Dari mulai bayi, sentuhlah anak dengan cara menggendong atau  mendekapnya dengan penuh kasih. Perlakuan kecil seperti itu tidak boleh dianggap sepele. Dekapan atau pelukan tersebut akan berpengaruh besar terhadap sikapnya di kemudian hari. Karena, pola perilaku anak adalah cerminan dari sikap orangtua terhadapnya.

Memperlakukan anak harus benar. Karena sikap baik tersebut akan dihayati anak dan akan tercermin dalam perilakunya kelak. Orangtua pun jangan membedakan anak yang satu dengan yang lainnya. Setiap anak itu unik, tidak ada satu pun yang sama. Mereka punya potensi, kelebihan, bakat, dan minat yang berbeda-beda. Lihat saja ada anak yang senang matematika, ada anak yang mahir menggambar, ada juga yang terampil berolahraga.

Jangan pernah memarahi anak kalau ia tidak pandai dalam matematika. Karena, setiap anak mempunyai kecerdasan sendiri-sendiri. Mungkin ia tidak begitu paham dengan matematika, tetapi lihatlah, bukankah ia sangat terampil bermain bola? Orangtua harus pandai-pandai menemukan bakat dan potensi yang terdapat pada anaknya.

c. Kenalilah potensi anak.

Dr. Howard Gardner, pencetus Teori Multiple Intelligencies merumuskan bahwa pada anak terdapat tujuh tipe kecerdasan, selain kecerdasan intelektual yang kita kenal selama ini. Kecerdasan tersebut adalah:

1.  Kecerdasan fisikal. Contohnya, pandai olahraga, mematung, menari, dan lain sebagainya.

2.   Kecerdasan interpersonal (emosional).

3.  Kecerdasan verbal. Contohnya, pandai berkata-kata, bercerita atau berpidato.

4.  Kecerdasan sosial. Contohnya, pandai bergaul, mudah diterima orang lain atau mudah mencari teman.

5.  Kecerdasan musikal. Contohnya, ahli musik, pandai bernyanyi, mahir bermain piano.

6. Kecerdasan spiritual. Contohnya, bijaksana, punya nilai-nilai yang baik, peka terhadap gejala-gejala spiritual.

7. Kecerdasan logikal atau matematika atau struktural.

Biasanya seorang anak akan memiliki satu jenis kecerdasan yang menonjol bahkan ada juga yang lebih. Akan tetapi, jarang anak yang memiliki ketujuh kecerdasan itu sekaligus.

d. Hindari salah kaprah mendidik anak.

Jadi seyogyanya orangtua jangan salah kaprah dalam memandang pendidikan anaknya. Pernah mendengar ada orangtua yang memarahi anaknya yang berusia dini? Mungkin tujuan orangtua hanya berkelakar. Misalnya, “Main saja kerjaanmu, Nak! Bahkan dari pagi sampai malam tak ada hentinya.”

Wahwah…, padahal bermain itu sangat penting bagi anak lho. Bermain itu adalah pekerjaan anak yang utama. Lewat bermainlah anak bisa belajar banyak hal. Jadi, tidak bijaksana jika melarang anak bermain. Karena bermain bagi anak adalah belajar, dan belajar bagi anak adalah bermain.

e. Hakikat anak.

Mungkin kita sepaham dengan sastrawan besar India, Rabindranath Tagore (1861-1941), tentang seperti apa hakikat anak. Bahkan ia mengungkapkannya dalam kalimat pendek, namun menyentuh. Bahwa hakikat anak itu adalah jiwa merdeka. Jadi berikanlah kesempatan pada anak untuk mengenal diri dan lingkungannya lewat bermain.

Anak memang karunia yang luar biasa. Para sastrawan banyak menganalogikannya dengan sesuatu yang indah. Anak bagai bintang berkelip di langit. Cahayanya cantik menerangi kegelapan malam. Kalau bintang adalah cahaya langit, maka anak adalah cahaya kehidupan dunia.

Untuk itu, berikanlah anak pendidikan yang baik. Bangkitkan potensi besar yang ada dalam dirinya agar kelak anak menjadi orang yang berguna. Anak memiliki banyak potensi tersembunyi. Bila potensi itu dikembangkan, maka akan membantunya mengarungi kehidupan ini dengan langkah yang berarti.

f. Jadilah orangtua yang baik.

Ilmu pengetahuan mengklasifikasikan potensi itu sebanyak 128 buah. Akan tetapi, potensi yang akan muncul tidak semuanya, hanya sebagian saja. Pola pendidikan sangat besar memengaruhi sang anak.

Sungguh memprihatinkan jika sekarang ini banyak para orangtua yang terkesan mendidik anak dengan sesuka hatinya sendiri. Kebanyakan dari mereka beralasan telah memenuhi anak dengan cintanya yang cukup besar. Ternyata cinta saja tidaklah cukup. Potensi anak yang terpendam bagai mutiara terkubur itu  justru malah benar-benar terbenam ke dalam lumpur. Hal itu akibat ketidakpedulian orangtua dalam pendidikan anaknya.

Makanya, menjadi orangtua haruslah sabar dalam berproses. Selain itu, kita juga harus bersungguh-sungguh dalam melaksanakan pendidikan yang unggul kepada anaknya. Dr. Fitzbugh Dodson, psikolog dari Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa pendidikan anak berarti memanfaatkan pengetahuan ilmiah mengenai psikologi anak untuk membentuk mereka menjadi insan cerdas dan berbahagia.

Artinya, menjadi orangtua itu harus penuh persiapan diri. Karena kelak orangtua harus menjadi pendidik yang handal bagi anak-anaknya. Dan ketahuilah, sesungguhnya pekerjaan mendidik anak adalah pekerjaan orangtua yang paling berat, maka semua orangtua harus menjalaninya dengan serius.

 ***

resepmasakanku.co